Tampilkan postingan dengan label khitobah pesantren. Tampilkan semua postingan

PENTINGNYA MENJAGA LISAN

0 komentar
PENTINYA MEJAGA LISAN
Lina Nur khoiriyah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العلمين وبه نستعين على امورالدنيا والدين. الصلاة واسلام على اشرفالانبياء والمرسلين سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين. اما بعد
Yang terhormat Ibu Nyai Siti Khodijah Al-Hafidzah beserta keluarga
Yang kami hormati segenap jajaran kepengurusan pondok pesantrenTahfizdul Qur’an Al Irsyad
Dan tak lupa teman-teman yang saya cintai dan saya banggakan
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kita dapat berkumpul di majlis yang mubarok ini.
Ke dua kalinya, sholawat serta salam marilah kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam jahiliyah menuju alam islamiyah ini.
Diantara nikmat Allah Ta’ala yang paling besar manfaatnya kepada manusia adalah lisan (lidah) dan dua bibir. Allah Ta’ala mengingatkan kedua nikmat tersebut dalam firmanNya:
الم نجعل له عينين. ولسا نا وشفتين. (البلد )
Kita diberikan nikmat lisan oleh Allah, untuk kita gunakan dengan sebaik-baiknya seperti : membaca AlQur’an. Berdzikir, dan berucap yang sebaik-baiknya.Tahukah kalian, bahwa ucapan yang keluar dari lisan seseorang akan mempengaruhi aktivitasnya, begitu pun sebaliknya.
Dari Muadz bin Jabal, Nabi bersabda :
هل يكتب الناس في النار على وجوههم او على مناخرهم ألا حصا ءد السنتهم
"tidaklah yang menyebabkan manusia menyungkurkan wajah-wajah mereka atau hidung-hidung mereka kecuali akibat dari hidung mereka.
Coba kita hitung-hitung, berapa kali lisan ini digunakan untuk mengaji, untuk berdzikir dalam sehari. Bandingkan dengan yang kita gunakan untuk bergurau, mencela, atau berkata yang tidak berfaedah ? Allah berfirman :
ما يلفظ من قول ألا لديه رقيب عتيد (ق )
“tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada disisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)”
Maksiat lisan yang pertama adalah Kadzib/Dusta. Apakah Kadzib/Dustaitu? Imam Al Mawardi berkata, “Dusta adalah penghimpun seluruh kejahatan dan pangkal setiap perbuatan tercela karena bisa mengakibatkan timbulnya namimah/adu domba,  sedangkan namimah melahirkan kebencian, dan kebencian akan membawa kepada permusuhan. Dan kalau sudah bermusuhan, sudah tentu tidak dirasakan lagi rasa aman dan tentram”. Oleh karena itulah dikatakan : “Barang siapa yang sedikit kejujurannya, maka sedikit pula temannya.”
Lalu, maksiat lisan yang kedua adalah Ghibah/menggunjing. Imam An Nawawi berkata, “Ghibah adalah membicarakan seseorang tentang hal yang tidak disukainya jika dibicarakan, baik berkaitan dengan badan orang itu, ibadahnya, keduniaannya, kepribadiannya, fisiknya, akhlaknya, hartanya, anaknya, istrinya, pembantunya, pakaiannya, gerakannya, raut mukanya, masam mukanya dan hal-hal lain yang berkaitan dengan dirinya, baik menyebutkan secara langsung dengan kata-kata mau pun dengan isyarat dan atau kedipan mata.”
Dan maksiat lisan yang ketiga adalah Namimah/Mengadu Domba. Nabi SAW pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda; “Keduanya sedang disiksa, keduanya disiksa karena mengira bukan dosa besar”, Beliau melanjutkan sabdanya, “Padahal sebenarnya (dosa besar). Adapun salah satunya, ia pergi kesana kemari mengadu domba, sedangkan yang satu lagi tidak menjaga diri dari kencingnya.”
Mbak-mbak yang sholihah
Lantas bagaimana agar lisan kita selamat dari maksiat-maksiat tersebut?
Jagalah lisanmu, sempatkanlah berada di rumahmu dan tangisilah dosa-dosamu
Demikianlah yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf.
Manuk blekok menclok ning sawah
انظر ما قال ولا تنظر من قال
الا لقاء مع سلامه
والسلام عليكم ورحمة الله وبركته



Read More »

RINDU

0 komentar
RINDU
 (Siti Khalimatus Sya’Adah)
            Cinta merupakan condongnya hati terhadap sesuatu yang terasa keindahannya, ketika kecondongan itu sudah terlalu kuat dan menggebu-gebu  artinya sudah sampai tingkatan rindu. Dengan demikian, tingkatan rindu berada diatas tingkatan cinta(hubb). Banyak cerita serta kisah yang menjelaskan tentang kedasyatan rindu seperti kisah Yusuf dan Zulaikha, Qais dan Laila.
Kisah Yusuf dan Zulaikha merupakan salah satu kisah rindu dan telah termaktub dalam QS. Yusuf: 24
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
24. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya[750]. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.

[keterangan] Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Nabi Yusuf a.s. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaikha), akan tetapi godaan itu demikian besanya sehingga andaikata Dia tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu Dia jatuh ke dalam kemaksiatan.
            Bermula dari cinta Zulaikha yang timbul dari nafsu akhirnya Zulaikha dipisahkan dari Yusuf, namun ketika cinta mereka dikembalikan pada sang pemilik cinta maka setelah sekian lama mereka berpisah akhirnya dipersatukan oleh Allah. Namun, sikap Zulaikha berubah dalam sebuah syair:
Wahai Yusuf aku sudah mencintaimu jauh sebelum aku mengenal Dia. Namun ketika aku mengenalNya hatiku tak ada ruang lagimeletakkan cinta terhadap sesuatu yang lain selain Dia termasuk kamu. Dan aku tidak menghendaki ada ganti kecuali hanya Dia saja.”
Rindunya Zulaikha bukan untuk Yusuf namun untuk tuhannya Yusuf, subhanaAllah. Namun belum Maqom kita untuk rindu seperti rindunya Zulaikha pada sang khalik, namun bagaimana kita rindu pada kekasihNya terlebih dahulu dengan memperbanyak sholawat kepada nabi Muhammad SAW.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
128. sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.(QS At Taubah:128)
Nabi muhammad SAW seorang yang hidup jauh dari masa kita namun diakhir hidupnya masih saja memikirkan kita umatnya. Dalam suatu hikayah dari Hasan, umat rosulullah selalu berkata “ Ya Muhammad, sungguh kami amat mencintai Tuhan kami”. Kemudian melalui Bisri al Haffi katanya, aku bermimpi melihat rosulullah beliau bersabda begini “hai bisri, apa kau tahu lantaran apa Allah mengangkat derajatmu lebih tinggi dibanding teman-temanmu!”
“tidak, ya rosullullah” kataku.
“ yakni dengnan pelayananmu terhadap orang-orang shaleh dan nasehatmu terhadap sesama kawan dan engkau memegang teguh sunnahku”
            Sabda nabi: “ barang siapa yang menghidup hidupkan sunahku, maka dia sungguh mencintaiku. Dan barang siapa yang mencintaiku kelak dia akan bersamaku.
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: إِنَّ أَنْجَاكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ أَهْوَالِهَا وَمَوَطِنِهَا اَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً فِي دَارِ الدُّنْيَا.

“sesungguhnya orang mukmin yang paling selamat besuk dihari qiyamat dari huru hara dan lapangan qiyamat adalah orang yang paling banyak membaca sholawat kepadaku ketika masih hidup di dunia”
            Oleh karena itu, perbanyaklah sholawat kepada nabiyullah Muhammad SAW sebagai bukti rindu kita pada beliau, dan semoga kita dapat mendapatkan syafaat beliau serta dapat dipertemukan dengan beliau walaupun dalam mimpi. Aamiin.

Sumber:
Imam Ghozali, Rahasia Ketajaman Mata Hati, (Surabya: Terbit Terang, _), 57.
Al Fariq Abd. Muhammad Rifa’I, Kunci Kebahagiaan, (Tuban: PP Manba’ul Huda,_), 31



Read More »